Oct 18, 2017

Lee Kuan Yew Pendiri Singapura Keturunan Indonesia

Posted by on Oct 18, 2017






















Lee Kuan Yew (1923 - 2015) adalah tokoh fenomenal dan sangat berpengaruh di Singapura. Lee Kuan Yew terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter dan tegas. Lee meninggal pada usia 91 tahun pada hari Senin, 23 Maret 2015. Pemimpin yang berkuasa selama 31 tahun ini menanamkan dasar yang kuat untuk negara Singapura sehingga negara Singa tersebut menjadi maju seperti saat ini.

Tidak banyak orang yang tahu jika Lee Kuan Yew merupakan keturunan dari Indonesia, kakek beliau berasal dari Semarang yang hijrah ke Singapura. Kakek Lee yaitu Lee Hoon Leong yang menikahi Ko Lien Nio di Semarang, Jawa Tengah melahirkan Lee Chin Koon (tahun 1903) ayahanda dari Lee Kuan Yew. Tidak banyak jejak sejarah yang mengupas mengenai leluhur Lee Kuan Yew di Semarang.

Terlepas dari itu seorang penulis buku yang bernama Jongkie Tio mengatakan bahwa jejak leluhur Lee Kuan Yew berada di kawasan Jalan Pemuda Semarang. Dari cerita mulut ke mulut apotik "Noe-ma" di jalan Pemuda Semarang dulunya adalah bekas rumah ayah dan kakek-nenek Lee Kuan Yew.

Itulah sepenggal kisah garis keturunan pemimpin Singapura Lee Kuan Yew. Data dan informasi selelngkapnya belum bisa dibuktikan secara pasti dan informasi yang simpang siur. Semarang memang tercatat dalam memoir Lee Kuan Yew dan arsip-arsip sebagai kota leluhurnya.

Jejak Kepemimpinan Lee Kuan Yew

Pada tahun 1959, People's Action Party (PAP) pimpinan Lee Kuan Yew berhasil memenangkan pemilu di Singapura dengan menguasai 41 dari 53 kursi di parlemen. Ketika Lee diangkat sebagai perdana menteri, kas negara Singapura pada saat itu dalam keadaan kosong. Lee sendiri belum tahu apa yang bisa ia lakukan karena kondisi negaranya yang masih semrawut.

Penerapan hukum buruk, konflik antar etnis biasa terjadi, kehidupan masyarakat yang jorok dan sampah bertebaran dimana-mana, angka pengangguran mencapai 14%, sedangkan kekayaan alam tidak ada sama sekali. Luas lahan Singapura kurang lebih 400 kilometer persegi. Pada waktu itu yang menjadi andalan adalah padi, tetapi jumlah areal persawahan yang sangat sempit tidak bisa menyajikan beras untuk 40.000 orang. Kalau masyarakatnya jorok, membangun turisme juga tidak mudah. Singapura tidak memiliki pantai yang bagus untuk dijadikan kawasan wisata.

Lee cuma memiliki impian dan beberapa orang pemikir. Tidak ada cara lain, Singapura harus bisa "berubah". Ia memimpikan sebuah negara kecil yang bersih, disiplin, memegang kuat tradisi penghormatan kepada orang tua, dan tentunya negara yang kaya.

Lee mempunyai pertanyaan yang besar: harus mulai dari mana? Kalau negara tidak bisa memberikan lapangan pekerjaan maka Singapura akan menjadi sasaran agitasi komunis. Maka mulailah pekerjaan besar itu diguliskan. Ia menugaskan Dr. Goh Keng Swee untuk merancang pembangunan ekonomi yang agresif. Goh segera bertindak, Industrialisasi adalah pilihannya. Namun masalahnya, Singapura tidak memiliki bahan baku, tidak ada keterampilan industri dan yang lebih buruk lagi adalah tidak memiliki pasar yang besar.

Itulah sebabnya Singapura menjalin kerjasama dengan membentuk common market dengan Malaysia. Tetapi itu belum cukup. Dalam memajukan perekonomian, pemerintah Lee meminta bantuan PBB agar mengirim ahli ekonominya. PBB pada tahun 1960 segera mengirim misi survei industrial yang dipimpin oleh Gr. Albert Winsemius, yang dibantu oleh orang keturunan China I.F. Tang.

Dengan bantuan keduanya, Lee merumuskan strategi pembangunan ekonomi globalnya  yang berorientasi pada keunggulan daya saing dan produktivitas lewat pemerintah yang bersih, masyarakat yang disiplin dan industrialisasi yang dikawal oleh tenaga profesional.

Pemerintah Lee tidak anti asing, maka setiap bangsa boleh ikut membangun Singapura asal betul-betul Profesional. Ada dua badan yang jadi andalan Lee saat itu, yaitu HBD (Housing Development Board) dan EDB (Economic Development Board).

Pada saat perubahan mulai dilakukan, tentu saja banyak pihak yang tidak siap. Bahkan Lee sering disebut sebagai salah seorang diktator Asia yang anti demokrasi, HAM dan kebebasan berserikat. Lee memang terkenal sangat tegas dan disiplin. Orang yang membuang sampah sembarangan, melakukan vandalisme, membuang permen karet, berambut gondrong, atau tidak tertib di jalan, dikenai denda sangat besar. Seorang remaja Amerika pernah dihukum cambuk gara-gara melakukan vandalisme di Negeri Singa ini, dan itu sungguh menggemparkan negara adi daya tersebut.

Dengan kejadian tersebut, Lee tidak goyah, sejengkal pun mundur tidak. Ia juga membatasi ruang gerak pers dan mengendalikan oposisi. Baginya, semua harus berorientasi pada kedisiplinan dan satu kepemimpinan yang diwadahi oleh nilai-nilai confucius.

Pada tahun 1990-an, ketika sistem kesejahteraan sedang mengalami ujian dan ancaman kebangkrutan di Barat, pemerintah Singapura mengeluarkan Parent's Bill. Sebuah undang-undang yang dipercaya sangat kentaldengan nilai-nilai confucius. Melalui UU itu, orang tua berhak menuntut anak-anaknya kalau kalau tidak merawat orang mereka di harituanya. Dengan demikian, mereka tidak menjadi beban negara.

Perubahan yang digulirkan oleh Lee tentu tak akan berhasil kalau ia hanya berfokus pada wacana politik dan nilai-nilai belaka. Atas akar nilai-nilai ini, Lee memanggil para "doer" untuk bergerak bebas mengeksekusi gagasan-gagasan kreatif mereka.

Dr. Goh Keng Swee, dengan dibantu oleh Dr. Albert Winsemius dan IF Tang, punya peran penting untuk mempercepat proses industrialisasi di Singapura.

Ketika mengangkat kepala perwakilan EDB di New York pada tahun 1960-an, misalnya, mereka lebih memilih seorang top salesman dengan pengalaman bisnis, street smart, sabar, jujur, dan pekerja keras ketimbang seorang birokrat, akademisi, atau politisi yang biasa berkantor di ruang tertutup..

Pilihan ini jatuh pada Chan Chin Bok, seorang mantan salesman mobil yang juga kolumnis bisnis. Berkat bantuan Chan, Singapura menjalis kerjasama dengan produsen-produsen otomotif Detroit. Ford, misalnya, memilih Singapura sebagai lokasi assembly part-nya di Asia, setelah Singapura menjalin kerjasama dengan Malaysia dalam sebuah common market.

Dimasa pemerintahannya, Lee sangat konsisten menata pemerintahannya. Dalam setiap tahap ia selalu merusmuskan langkah-langkah konkret yang harus diambil para anggota kabinetnya. Hasil kerja keras Lee sudah terlihat, saat ini Singapura menjadi negara yang kaya raya dan sejahtera. Pada saat Lee Kuan Yew Melepaskan jabatannya pada tahun 1990, GDP Singapura menjadi US$ 14,000 dan masih terus bertumbuh sampai sekarang.
(Sumber: Change! hal 32-35, Rhenald Kasali)

Singapura saat ini telah menjadi negara terkaya tidak hanya di kawasan Asia saja tetapi di Dunia, dan menjadi negara terbersih di dunia. Perubahan besar Singapura ini berasal dari sebuah mimpi seorang Lee Kuan Yew, dengan kerja keras dan disiplin Negeri Singa ini benar-benar telah menjadi Singa dunia.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2017 herusantosa[dot]com All Rights Reserved
back to top